JARAN KECAK

Pada tahun 1806, Raden Tumenggung Sosrodiningrat/ Pangeran Cakraningrat III (Panembahan Siding Kapal) yang berkuasa si Madura Barat Sampang memindahkan sebanyak 250.000 orang sampang madura ke pulau jawa bagian tapal kuda seperti Bondowoso, Situbondo,Lumajang, Jember, Probolinggo, dan Pasuruan.

Orang madura yang menjadi punduduk di Lumajang juga menggemari kesenian bernama jaran Kepang ini, karena seokor kuda dengan kostum perang khas pewayangan jawa bertarung berdiri menggunakan dua kaki dengan pawangnya, setelah kemerdekaan republik Indonesia jaran kepang lebih di kenal dengan jaran pencak dan menjadi Jaran Kencak yang dikenal hingga saat ini.

Jaran Kencak sering berkaloborasi dengan kesenian lain, seperti tari Glipang Lumajang dan Probolinggo hingga Reog Ponorogo. Jaran kencak sering digunakan untuk mengiringi khitan, pernikahan hingga karnaval pemerintahan hari jadi Lumajang. Saat ini jaran kencak bisa di jumpai di luar Lumajang, bahkan orang madura yang setelah belajar jaran kencak membuat kesenian serupa dengan nama Jaran Serek di kota Sumenep.

Salah satu tempat yang memiliki cukup banyak tradisi dan budaya adalah kota Sumenep, yaitu sebuah kota yang berada diujung timur pulau Madura. Banyak orang dipulau tersebut mengatakan bahwa kota sumenep adalah kota yang memiliki penduduk dengan watak cukup halus dibandingkan dengan tiga kota lainnya, diantaranya kota Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.

Sumenep adalah satu-satunya kota di Madura yang ditempati kraton, maka tidak heran apabila tutur bahasanya pun halus seperti yang memang menjadi adat kraton atau kerajaan. Selain itu tradisi dan budaya yang ada di kota tersebut juga cukup unik, seperti misalnya budaya Jaran Kenca’ (bahasa Madura), yang artinya Kuda Goyang. Budaya tersebut tidak lagi menjadi budaya asing akan tetapi sudah sangat terkenal. Jaran kencak merupakan sebuah atraksi kuda yang bergoyang atau dalam bahasa Madura (akenca’) dengan diiringi musik, baik musik tradisional seperti ‘aronen’, atau juga musik modern seperti ‘Drumband’

Biasanya Jaran Kenca’ tersebut dipakai untuk perayaan hajatan di kota Sumenep, seperti Pernikahan, Khitanan, Haflatul Imtihan, atau hajatan yang lainnya. Bahkan saat ini budaya Jaran Kenca’ tidak hanya dipakai di kota Sumenep, melainkan sudah mulai meluas ke kota sebelah, seperti kota Pamekasan, Sampang, Bangkalan. Bahkan terkadang juga sampai ke kota Surabaya.

Keunikan dari atraksi kuda ini membuat banyak orang tertarik untuk mengundangnya pada sebuah acara hajatan, bahkan pada saat sekarang di kota Sumenep seakan tidak sempurna sebuah acara hajatan jika tidak mengundang Jaran Kenca’. Sumenep yang dikenal dengan sebutan Sumekar tersebut memiliki lambang kuda terbang sebagai sebuah simbol dari kota tersebut. Bahkan sejarah Joko Tole pada masa kerajaan di kota tersebut, sebagai salah satu pendekar yang sangat tangguh juga menunggangi kuda terbang.

Dari sejarah tersebut maka tidak heran apabila sampai saat ini kota Sumenep masih saja diwarnai dengan nuansa Kuda. Bahkan perayaan hari jadi kota Sumenep pun juga dimeriahkan oleh pawai Jaran Kenca’ entah hal tersebut disengaja adanya, atau memang hanya kebetulan. Intinya budaya Jaran Kenca’ yang ada di Sumenep memang secara sikologi sejarah memiliki keterkaitan dengan adanya sejarah yang menjadi latar belakang kota sumenep. Maka dari itu mejadi sebuah kewajiban bagi generasi muda sumenep untuk tetap melestarikan budaya tersebut supaya generasi selanjutnyapun akan merasakan juga keindahannya. Mempertahankan dan merawat kearifan lokal merupakan sebuah tanggung jawab para generasinya, bahkan bukan hanya merawat akan tetapi juga mengembangkan serta menyesuaikan dengan kebutuhan zaman, oleh sebab itu ke kreatifan para generasi muda untuk merawat tradisi dan budaya yang dimiliki sangat dibutuhkan.

0 comments:

Post a Comment

Unordered List

banner here